Lagu Even Flow Pearl Jam Direkomendasikan untuk CPR
Lagu Even Flow dari Pearl Jam kini memiliki fungsi baru yang tak terduga. American Heart Association (AHA) merekomendasikan lagu grunge legendaris ini sebagai panduan untuk melakukan CPR atau resusitasi jantung paru.
Asosiasi kesehatan jantung terkemuka di Amerika Serikat tersebut menambahkan Even Flow ke dalam playlist lagu-lagu penyelamat nyawa. Tempo lagu ini sangat cocok untuk membantu orang melakukan kompresi dada dengan ritme yang tepat.
Kabar ini tentu mengejutkan sekaligus menyenangkan bagi penggemar musik rock era 90-an. Siapa sangka lagu yang identik dengan kemeja flanel dan celana jeans robek bisa menjadi alat bantu medis?
Tempo Ideal untuk CPR
American Heart Association mengidentifikasi lagu hits Pearl Jam tahun 1991 ini sebagai lagu ideal untuk melakukan hands-only CPR. Prosedur penyelamatan nyawa tersebut membutuhkan kompresi dada dengan kecepatan 100-120 kali per menit.
Even Flow memiliki tempo yang pas dengan parameter tersebut. Dengan mengikuti ritme lagu ini, seseorang dapat melakukan kompresi dada dengan kecepatan yang tepat dan konsisten.
“Keluarkan kemeja flanel dan celana jeans robek, nyalakan Pearl Jam dan pelajari cara menyelamatkan nyawa dengan Hands-Only CPR,” tulis American Heart Association dalam unggahan Instagram resmi mereka.
AHA juga memberikan panduan sederhana untuk situasi darurat. Jika melihat remaja atau orang dewasa tiba-tiba pingsan, hubungi 911 dan tekan keras serta cepat di tengah dada mengikuti irama Even Flow.
Mengapa Musik Penting untuk CPR
Musik memainkan peran penting dalam membantu seseorang melakukan CPR dengan benar. Tempo lagu yang tepat berfungsi sebagai metronom internal untuk menjaga konsistensi kompresi dada.
Ketika seseorang mengalami henti jantung, penolong mungkin secara tidak sengaja mempercepat atau memperlambat kompresi karena stres atau ketidakpastian. Lagu dengan BPM yang tepat dapat membantu menjaga kompresi tetap konsisten dan memadai.
Dr. John W. Hafner, profesor klinis kedokteran darurat di University of Illinois Chicago College of Medicine Peoria, menjelaskan pentingnya ritme dalam CPR. Menurutnya, seseorang benar-benar bisa menyelamatkan nyawa hanya dengan melakukan kompresi dada sederhana.
“Kamu benar-benar bisa menyelamatkan nyawa hanya dengan melakukan kompresi dada sederhana dan menekan keras serta cepat. Dan musik bisa membantumu mengingat seberapa cepat itu cepat,” kata Dr. Hafner.
Dampak Kecepatan Kompresi
Kecepatan kompresi dada sangat krusial dalam keberhasilan CPR. Melakukan kompresi terlalu lambat atau terlalu cepat dapat mengurangi efektivitas pertolongan pertama.
Dr. Comilla Sasson, wakil presiden untuk sains dan inovasi di AHA, menjelaskan bahwa ketika kompresi terlalu cepat, jantung tidak memiliki cukup waktu untuk terisi darah. Sebaliknya, jika terlalu lambat, output darah tidak mencukupi.
“Ketika kamu terlalu cepat, jantung tidak punya cukup waktu untuk terisi darah, dan jika terlalu lambat, kamu tidak mendapatkan output yang cukup. Jadi kamu ingin berada di sweet spot antara 100 dan 120 kompresi per menit,” jelasnya.
Rentang 100-120 BPM menjadi titik optimal karena mempertimbangkan fakta bahwa tidak semua orang memiliki ritme yang sempurna. Orang cenderung menekan lebih lambat dari lagu yang sebenarnya.
Sejarah Lagu CPR
Selama bertahun-tahun, Stayin’ Alive dari Bee Gees menjadi lagu andalan untuk pelatihan CPR. Lagu disco tahun 1977 tersebut memiliki tempo sekitar 103 BPM yang pas dengan kebutuhan kompresi dada.
Lirik “Ah, ah, ah, ah, stayin’ alive, stayin’ alive” bahkan sangat cocok secara simbolis dengan tujuan CPR yaitu menjaga seseorang tetap hidup. Lagu ini bahkan muncul dalam adegan memorable di serial televisi The Office.
Namun seiring berjalannya waktu, AHA menyadari bahwa generasi yang berbeda membutuhkan referensi musik yang berbeda pula. Sebuah lagu hanya berguna jika orang tersebut familiar dengannya.
Dr. Jeffrey L. Pellegrino, profesor di University of Akron, mengatakan bahwa teknik menggunakan musik familiar dalam pelatihan CPR memang efektif. Musik yang dikenal dapat memicu respons otomatis saat situasi darurat.
Playlist Penyelamat Nyawa
American Heart Association telah membuat playlist di Spotify bernama “Don’t Drop The Beat” yang berisi hampir 60 lagu populer. Semua lagu dalam playlist tersebut memiliki tempo antara 100-120 BPM.
Selain Even Flow dan Stayin’ Alive, playlist tersebut juga mencakup berbagai genre musik. Uptown Funk dari Bruno Mars, Just a Girl dari No Doubt, dan Eye of the Tiger dari Survivor termasuk di dalamnya.
Lagu-lagu lain yang masuk daftar antara lain Ice Ice Baby dari Vanilla Ice, Poker Face dari Lady Gaga, dan I Wanna Dance with Somebody dari Whitney Houston. Ada pula Sorry dari Justin Bieber dan 24K Magic dari Bruno Mars.
Untuk penggemar hip hop, Not Like Us dari Kendrick Lamar dengan 101 BPM juga masuk dalam daftar. Bahkan lagu Latin Titi Me Pregunto dari Bad Bunny dengan 107 BPM juga direkomendasikan.
Profil Lagu Even Flow
Even Flow merupakan lagu dari band rock Amerika Pearl Jam yang dirilis pada Maret 1992. Lagu ini menjadi single kedua dari album debut mereka yang legendaris, Ten (1991).
Eddie Vedder menulis lirik lagu ini sementara Stone Gossard menciptakan musiknya. Lagu ini mencapai posisi nomor tiga di chart Billboard Mainstream Rock Tracks.
Lirik Even Flow terinspirasi dari nasib seorang tunawisma yang diamati dan dikenal Vedder. Pada konser di Toronto tahun 2008, Vedder mengungkapkan bahwa lagu tersebut ditulis di bawah Space Needle di Seattle.
Di pertunjukan berikutnya di Seattle pada Agustus 2018, Vedder mengungkapkan bahwa lagu ini terinspirasi dari seorang veteran Perang Vietnam tunawisma bernama Eddie yang ia kenal saat mengerjakan album pertama band. Vedder menulis lagu tersebut setelah mengetahui pria tersebut meninggal saat band sedang tur.
Album Ten yang Legendaris
Ten merupakan album debut studio Pearl Jam yang dirilis pada 20 Agustus 1991 melalui Epic Records. Album ini menjadi salah satu album paling berpengaruh dalam era grunge dan rock alternatif.
Album ini menghasilkan tiga single hits yaitu Alive, Even Flow, dan Jeremy. Jeremy menjadi salah satu lagu Pearl Jam yang paling dikenal dan menerima nominasi Grammy Awards untuk Best Rock Song.
Ten tidak langsung sukses secara komersial, namun pada akhir 1992, album ini mencapai posisi nomor dua di Billboard 200. Album ini menghabiskan total 264 minggu di chart Billboard, menjadikannya salah satu dari 15 album dengan charting terlama.
Per Februari 2013, Ten telah terjual 13 juta kopi di Amerika Serikat menurut Nielsen SoundScan. Album ini telah mendapat sertifikasi 13 kali platinum dari RIAA.
Proses Rekaman yang Sulit
Proses rekaman Even Flow di studio menjadi salah satu tantangan terbesar dalam sesi album Ten. Band ini kesulitan mendapatkan take yang memuaskan meskipun lagu tersebut sudah sering dimainkan live.
Bassis Jeff Ament mengungkapkan bahwa mereka tahu itu lagu yang hebat sejak awal. Namun ia merasa itu adalah lagu terbaik yang mendapat take terburuk di album pertama mereka.
“Ada seratus take untuk lagu itu, dan kami tidak pernah benar-benar berhasil,” kata Ament. Drummer Dave Krusen mengakui bahwa lagu tersebut “menderita dari terlalu banyak fluktuasi” tempo.
Gitaris Mike McCready menggambarkan sesi rekaman sebagai mimpi buruk. Ia mengaku mereka melakukan Even Flow sekitar 50 hingga 70 kali sebelum mendapatkan versi yang dirilis.
Pengaruh Grunge dalam Musik
Even Flow mendefinisikan ciri khas gerakan grunge dengan gitar distorsi, vokal dinamis yang intens, dan tema-tema gelap. Lagu ini membantu membawa rock alternatif ke khalayak mainstream.
Album Ten sering dibandingkan dengan karya Jimi Hendrix dan Led Zeppelin karena pengaruh rock klasiknya yang kuat. Meski demikian, album ini tetap memiliki karakteristik grunge yang khas dari Seattle.
Stone Gossard memainkan riff funky dalam tuning open D sementara Mike McCready melengkapinya dengan pola ritme serupa dalam tuning standar. McCready mengakui permainan gitarnya terinspirasi dari Stevie Ray Vaughan.
Produser Tim Palmer mencampur album di Ridge Farm Studios di Inggris pada musim panas 1991. Ia memberikan reverb dan delay yang signifikan, menciptakan suara yang luas dan megah pada Even Flow.
Cara Melakukan Hands-Only CPR
American Heart Association memberikan panduan sederhana untuk melakukan Hands-Only CPR. Langkah pertama adalah memastikan seseorang menghubungi layanan darurat.
Setelah itu, letakkan tumit telapak tangan di tengah dada korban. Tekan keras dan cepat dengan kecepatan 100-120 kali per menit hingga bantuan medis tiba.
Kedalaman optimal untuk setiap tekanan adalah sekitar 2 inci atau 5 sentimeter. Pastikan dada kembali ke posisi semula sepenuhnya sebelum melakukan tekanan berikutnya.
Menurut estimasi American Heart Association, sekitar 350.000 orang di Amerika Serikat mengalami henti jantung di luar rumah sakit setiap tahun. CPR yang dilakukan segera dapat melipatgandakan atau melipattigakan peluang bertahan hidup seseorang.
Pentingnya Pelatihan CPR
Meski musik dapat membantu menjaga ritme, pelatihan CPR tetap sangat penting. Video online dari AHA dapat memberikan dasar-dasar, namun pelatihan langsung memberikan praktik penting.
Faktor seperti kedalaman tekanan membutuhkan latihan langsung untuk dikuasai. Dr. Pellegrino menyarankan untuk memberikan hadiah kursus pelatihan CPR sebagai kado yang bermakna.
Mempelajari CPR sangat penting terutama jika tinggal dengan seseorang yang berisiko mengalami henti jantung. Mayoritas insiden ini terjadi di rumah, di mana anggota keluarga mungkin ada untuk memberikan pertolongan.
Yang menggembirakan, siapa pun dapat melakukan CPR. Tidak harus orang dewasa untuk melakukan tindakan penyelamatan nyawa ini.
Lagu CPR untuk Berbagai Selera
AHA terus menambahkan lagu-lagu baru ke dalam playlist CPR mereka. Hal ini memastikan bahwa orang dari berbagai generasi dan selera musik dapat menemukan lagu yang familiar.
Untuk penggemar country, Choosin’ Texas dari Ella Langley dengan 112 BPM juga masuk daftar. Penggemar reggaeton bisa menggunakan EL CLúB dari Bad Bunny dengan 111 BPM.
Lagu-lagu Natal pun tidak ketinggalan. Here Comes Santa Claus versi Mariah Carey dengan Snoop Dogg (109 BPM) dan Merry Christmas Happy Holidays dari NSYNC (105 BPM) juga bisa digunakan.
Yang terpenting adalah memilih satu lagu spesifik untuk dihafal temponya. Dengan demikian, ketika situasi darurat terjadi, seseorang dapat langsung mengingat ritme yang tepat tanpa harus mencari-cari lagu yang cocok.
Warisan Pearl Jam
Pearl Jam telah memainkan Even Flow lebih dari 800 kali dalam karier mereka hingga 2011. Lagu ini menjadi salah satu lagu yang paling sering dimainkan dalam katalog mereka.
Menurut laporan tahunan Nielsen Music 2019, Even Flow adalah lagu kelima yang paling sering diputar selama dekade 2010-2019 di radio rock mainstream dengan 132.000 pemutaran. Menariknya, semua lagu di 10 besar berasal dari era 90-an.
Rolling Stone menempatkan lagu ini di posisi nomor 77 dalam daftar “100 Greatest Guitar Songs of All Time”. VH1 juga memasukkan Even Flow di posisi nomor 30 dalam hitungan “100 Greatest Hard Rock Songs”.
Kini dengan rekomendasi dari American Heart Association, Even Flow memiliki makna baru. Lagu yang awalnya menceritakan kisah tunawisma kini bisa membantu menyelamatkan nyawa orang-orang yang mengalami henti jantung.
